Gempa Manado 6 SR

11 10 2009

Gempa yang terasa cukup kuat mengguncang kota Manado, Sulawesi Utara. Kejadian ini membuat banyak warga panik dan berlarian keluar rumah atau bangunan lainnya.

Pantauan detikcom, guncangan gempa terasa sekitar pukul 16.15 Wita, Rabu (9/9/2009). Guncangan gempa sangat terasa, terutama bagi mereka yang berada di gedung-gedung bertingkat.

Beberapa detik setelah terjadi gempa, ratusan orang berhamburan ke jalan. Mereka keluar dari rumah atau bangunan bertingkat lainnya untuk menyelamatkan diri.

Di Jl Piere Tendean misalnya, banyak orang terlihat berebut keluar dari pusat belanja Mantos dan IT Center. Bahkan saking paniknya, tak sedikit dari mereka yang membuang belanjaannya begitu saja.

Kondisi serupa juga terlihat di daerah perkantoran di Jl Sam Ratulangi, Kota Manado. Ratusan karyawan yang berkantor di kawasan tersebut tampak memenuhi jalan.

Sampai saat ini belum ada informasi mengenai kerusakan dan korban luka akibat kejadian ini.

Menurut data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berkekuatan 6 Scala Richter. Pusat gempa berada 146 KM Timur Laut Bitung dengan kedalaman 101 km. Gempa juga dirasakan di wilayah Ternate, Maluku Utara. Sumber : Detiknews





Gempa Toli-Toli 6 SR

11 10 2009

Sebuah Gempa berkekuatan 6.0 pada skala ritcher terjadi di Tolitoli, Sulawesi Tengah pada pukul 01:51 WIB dengan Pusat gempa terletak di 27 km Barat Laut Tolitoli.

Pusat gempa berada pada 1.28 Lintang Utara – 120.74 Bujur Timur, dengan kedalaman 12 km.

Saat terjadi gempa, menurut laporan dari lokasi kejadian, Selasa, masyarakat yang sedang mempersiapkan makanan untuk sahur langsung meninggalkan rumah mereka yang berada dalam keadaan gelap karena aliran listrik terputus seketika.

Setelah di konfirmasi dengan pihak Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geosfisika (BMKG), gempa yang terjadi di garis pantai Tolitoli tidak berpotensi memicu tsunami.

Berdasarkan laporan kantor daerah BMKG, Intensitas gempa yang dirasakan warga Tolitoli sekitar empat hingga lima MMI (Modified Mercalli Intensity), sedangkan intensitas gempa di Poso sekitar dua hinga tiga MMI.

Menurut staf BMKG pusat, Bayu, gempa di Tolitoli ini diakibatkan oleh adanya pergeseran lempeng laut Filipina dan Euroasia. Sumber : Antara





Gempa Jambi 7,0 SR

11 10 2009

Gempa bumi berkekuatan 7 skala Richter (SR) kembali mengguncang Sumatera, Kamis pagi ini. Kali ini gempa dirasakan di Jambi dan Bengkulu.

Seperti diberitakan Reuters, Kamis (1/10/2009), gempa yang terjadi pada pukul 09.31 WIB itu bertitik pusat di 54 kilometer Muko-muko, Bengkulu dengan kedalaman 10 kilometer.

Ini merupakan gempa kedua terbesar yang terjadi di Sumatera dalam 24 jam terakhir. Rabu sore kemarin gempa berkekuatan 7.6 SR mengguncang wilayah Sumatera Barat.

Menurut data Badan Survei Geologi Amerika Serikat, gempa di Padang kemarin sore berkekuatan 7.9 SR. Sedangkan gempa yang baru terjadi di Bengkulu dan Jambi tadi berkekuatan 6,8 SR. Sumber : BMKG, Okezone





Gempa Pariaman 7,6 SR

11 10 2009

Gempa

GEMPA DIRASAKAN

Tanggal 30/09/2009-17:16:09 WIB
Kekuatan 7.6 SR
Kedalaman 71 Km
Lokasi 0.84 LS 99.65 BT
Keterangan :
Pusat gempa berada diLaut 57 Km Barat Daya Pariaman-Sumbar
Dirasakan (MMI) :
II Jakarta, II-III Pekan Baru, III-IV Bukit Tinggi, III-IV Bengkulu, III-IV Tapanuli Selatan, III-IV Muko-Muko, IV Sibolga, IV Gunung Sitoli, VI-VII Padang,

Sumber : BMKG

Gempa tersebut dikabarkan menimbulkan dampak korban, kerusakan dan kerugian di Pariaman, Solok dan Padang. Berapa korban dan kerusakan masih belum didapatkan data pasti dari lokasi bencana.

Peringatan dini Siaga Tsunami sempat dikeluarkan oleh USGS, NOAA dan Jepang namun 1 jam kemudian telah di cabut.

Perkembangan Gempa Pariaman 7,6 SR
Hingga kini masih belum diketahui jumlah korban akibat gempa tersebut. Yang pasti, jaringan komunikasi terputus untuk sementara. Gempa terasa hingga berbagai kawasan di Sumatra Barat dan Pekanbaru, Riau.

Guncangan gempa juga dirasakan hingga Padang Sidempuan, Sumatra Utara. Hal ini dibenarkan Hasibuan, warga Padang Sidempuan. Menurut dia, saat gempa, atap-atap rumah terlihat goyang. Warga panik dan keluar ke rumah. Kini, sebagian warga sudah ada yang sudah masuk ke rumah. Sebagian lainnya terlihat masih di jalanan karena khawatir terjadi gempa susulan. Menurut Hasibuan, sejauh ini lokasi di sekitar rumahnya di Padang Sidempuan, belum terlihat adanya kerusakan parah.

Sementara berdasarkan laporan Kantor Berita Antara, warga Kota Jambi dan sekitarnya juga dikejutkan oleh goncangan gempa. Guncangan yang menggetarkan lampu-lampu gantung tersebut membuat sejumlah warga berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Kepala Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika Provinsi Jambi Remus L. Tobing membenarkan telah terjadi gempa dengan guncangan yang cukup kuat. Namun gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Belum diperoleh informasi adanya kerusakan atau korban akibat goncangan gempa yang juga dirasakan di sejumlah kabupaten di Jambi, Bengkulu dan Aceh.





Bencana Alam Banjir Trenggalek

11 10 2009

Bencana Alam Banjir TrenggalekDerasnya hujan seharian hingga menjelang pagi yang mengguyur Trenggalek kemarin (19/4) menyebabkan Sungai Tawing meluap, sehingga merendam puluhan rumah penduduk di tiga kecamatan. Kec. Gandusari, Kec. Karangan dan Kec. Kampak terendam, banjir terparah terjadi di Kec. Gandusari. Desa yang terlanda banjir adalah Kedungsigit, Sukorame, Karanganyar, Sukorejo, Wonorejo, dan Ngrayung. Jembatan ambrol juga terjadi, selain jalanan dan pekarangan rumah warga.
Di Dusun Nglaban, Desa Karanganyar 40 unit rumah terendam dengan ketinggian air mencapai 30 cm yang juga terjadi di Dusun Pule, Desa Sukorejo sehingga mengakibatkan jalanan macet karena terendam. Menurut keterangan Kades Karanganyar Bambang Dwi Suryanto mengatakan bahwa wilayahnya biasa menjadi langganan banjir.
Warga sudah memperkirakan terjadinya banjir, sehingga terdengar kentongan yang dipukul oleh petugas. Warga diharapkan segera memasak agar tidak kekurangan makanan selama kebanjiran
Kejadian bermula dari datangnya air pukul 05.00 WIB dan semakin siang air bertambah tinggi memasuki pekarangan dan akhirnya merendam rumah-rumah pendudukdan sempat merubuhkan dapur salah satu warga. Derasnya aliran Sungai Tawing juga menyebabkan ambrolnya jembatan darurat Sukorame, Desa Sukorame, Kec. Gandusari untuk kedua kalinya. “Semua warga harus berputar, terutama anak sekolah mengalami kesulitanakan karena semakin jauh,” ujar Mohammad Syamsu, Kades Sukorame. Jalan Propinsi sekitar 1 kilometer di Desa Kedungsigit, Kec. Karangan tergenang air, pada pukul 07.00 WIB ketinggian air mencapai 1 meter. Menurut Camat Karangan Sunani ,”Debit air memang terlalu besar, sehingga meluber begini. Padahal kedalaman sungai sudah memadai sekitar 2 meter”. Sumber : Jawa Pos





Gempa Yogya Tewaskan 3.098 Orang

11 10 2009

Yogyakarta, Kompas – Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang DI Yogyakarta dan sekitarnya, Sabtu (27/5) pukul 05.53. Sampai pukul 00.15, tercatat 3.098 korban tewas dan 2.971 orang di antaranya berasal dari Kabupaten Bantul. Gempa juga meluluhlantakkan 3.824 bangunan, infrastruktur, dan memutuskan jaringan telekomunikasi di Yogyakarta dan Bantul.Bencana Gempa Yogyakarta

Gempa di Yogyakarta ini merupakan bencana alam terbesar kedua setelah tsunami tahun 2004. Gelombang tsunami menyapu Provinsi Aceh dan Sumatera Utara, Desember 2004, dan menewaskan sekitar 170.000 orang. Bulan Maret 2005, gempa mengguncang Nias dan menewaskan sekitar 1.000 orang.

Tak hanya di Bantul, korban tewas juga berasal dari berbagai wilayah di DIY, seperti Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, dan Gunung Kidul. Bahkan, korban tewas juga dari wilayah Jawa Tengah, seperti Klaten dan Boyolali.

Korban tewas pada umumnya karena tertimpa bangunan yang roboh, sementara korban luka-luka juga banyak terjadi karena kepanikan yang luar biasa. Mereka panik karena ada isu tsunami, lalu lintas jalan raya menjadi kacau, dan banyak tabrakan yang mengakibatkan warga terluka.

Semua rumah sakit pemerintah dan swasta penuh dengan korban gempa, baik luka ringan, parah, maupun meninggal. Rumah sakit itu umumnya tak sanggup lagi menampung korban sehingga pasien dirawat di halaman. Korban tewas banyak yang langsung dimakamkan keluarganya dengan sederhana karena banyak masyarakat yang tak lagi berada di rumah mereka.

Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X berharap para korban yang kini dirawat di rumah sakit di Yogyakarta dapat dievakuasi ke rumah sakit-rumah sakit lain, misalnya di Jakarta, agar penanganannya lebih baik. Hal ini karena rumah sakit di Yogyakarta fasilitas dan tenaganya sudah sangat terbatas.

Berdasarkan pemantauan oleh Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Yogyakarta, gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter (SR) ini terjadi pada pukul 05.53.58 di lepas pantai Samudra Hindia. Posisi episentrum pada koordinat 8,26 Lintang Selatan dan 110,33 Bujur Timur, atau pada jarak 38 kilometer selatan Yogyakarta pada kedalaman 33 kilometer. Gempa utama terus diikuti gempa susulan berkekuatan kecil.

Menurut Tony Agus Wijaya Ssi, pengamat geofisika pada Stasiun Geofisika Yogyakarta, kekuatan gempa belum menyebabkan gelombang tsunami. Berdasarkan perhitungan menggunakan pemodelan tsunami, gempa sebesar itu hanya sedikit menaikkan gelombang laut. ”Kalau terjadi tsunami, gelombang laut sudah akan sampai di pantai dalam 30 menit. Kalau sampai tiga jam ini belum ada, berarti tidak ada tsunami,” katanya.

Dampak gempa ini juga dialami oleh warga di Dusun Ngrangkah dan Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Sejumlah rumah di dusun yang berada di lereng Gunung Merapi ini rusak ringan dan sedang pada bagian atap.

Sebagian besar warga di Kabupaten Sleman menduga gempa berasal dari Gunung Merapi yang aktivitasnya sedang meningkat. Selepas terjadinya gempa, warga ke luar rumah dan memandang ke arah Gunung Merapi. Gumpalan awan panas di Merapi diyakini warga sebagai sumber gempa. Namun, dugaan itu salah besar karena sumber gempa berada di Laut Selatan.

”Saya khawatir gempa tektonik ini akan memengaruhi kestabilan kubah lava Gunung Merapi. Gempa tektonik dan susulannya harus terus dipantau pengaruhnya terhadap Merapi,” kata A Pudjo Hatmodjo, Kepala Subbagian Tata Usaha Stasiun Geofisika Yogyakarta.

Kunjungan Presiden

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X kemarin sore langsung mengunjungi korban di tempat pengungsian. Dalam konferensi pers di rumah dinas Bupati Bantul, Presiden meminta pemerintah daerah di Jawa Tengah dan DIY menggunakan segala sumber daya, misalnya pusat pembangkit, dan mengaktifkan badan koordinasi nasional.

”Utamakan perawatan dan pengobatan yang luka, evakuasi, dan pemakaman bagi jenazah yang meninggal. Menteri harus pastikan rumah sakit dan penampungan punya fasilitas cukup, penerangan operasi, obat-obatan, dokter, termasuk makanan dokter,” kata Presiden.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie yang datang ke Bantul mengatakan, jumlah korban belum bisa dipastikan, namun data yang ia peroleh hingga Sabtu malam berjumlah 5.000 jiwa lebih dan masih bisa bertambah. Pemerintah juga memutuskan pendanaan operasi ditanggung pemerintah pusat dan daerah lewat satuan koordinasi dan pelaksana serta satgas-satgas di provinsi dan kabupaten.

690 korban di Klaten

Gempa bumi itu juga mengakibatkan ratusan korban tewas di Klaten, Jateng. Korban tewas hingga Sabtu sore mencapai 690 orang, berdasarkan data di Posko Bencana Gempa Bumi di Kantor Pemerintah Kabupaten Klaten. Jumlah paling besar tercatat di Kecamatan Gantiwarno (167 orang), Wedi (115 orang), dan Prambanan (89 orang).

Korban lain ditemukan di hampir seluruh kecamatan lainnya, seperti di Cawas (9), Trucuk (17 orang), Wonosari (2), Jogonalan (19), Ceper (2), Klaten Selatan (2), Pedan (3), Karangdowo (4), Klaten Tengah (1), Karanganom (1), dan Kebonarum (4).

”Korban tewas ratusan jiwa, yang luka ribuan, rumah yang roboh ribuan,” kata Kepala Kesbanglinmas Klaten Eko Medi Sukasto saat ditemui di Kecamatan Gantiwarno.

Selain memakan ratusan korban jiwa, ribuan warga lainnya luka parah maupun ringan. Rumah sakit yang ada di Klaten, seperti RS Dr Soeradji Tirtonegoro, RS Jiwa Soedjarwadi, Rumah Sakit Islam Klaten, dan Rumah Sakit Cakra Husada, tidak mampu menampung membeludaknya pasien.

Banyak pasien tak bisa tertangani sehingga hanya berada di luar pagar rumah sakit. Sisanya berada di selasar atau di depan bangsal dengan tempat tidur, infus, dan pengobatan seadanya di atas lantai. Lainnya dilarikan ke rumah sakit di Solo, seperti RSOP Prof Dr Soeharso yang hingga sore menampung 48 pasien dari Klaten.

Rumah sakit mengeluhkan kesulitan bensin untuk ambulans yang menjemput korban atau mengantarkannya kembali. Keluarga korban harus antre ambulans untuk menjemput keluarganya yang tewas.

Ribuan rumah warga juga hancur rata dengan tanah atau rusak sedang, namun tidak dapat ditempati lagi. Rumah-rumah di Wedi, Gantiwarno, dan Prambanan adalah yang paling banyak hancur. Paling kurang 1.224 bangunan rusak.

Fasilitas umum, seperti SD, SMP, kantor kecamatan, kantor polsek, kelurahan, tidak luput dari kehancuran di tiga kecamatan tersebut. Jalanan aspal juga retak dan terbelah di banyak tempat, seperti terlihat di Jalan Raya Jabung, Gantiwarno. Sebuah bus pelat merah yang sedang melintas saat gempa terguling karena jalanan merekah akibat gempa. Sambungan telepon dan listrik terputus. Hingga sore hari, jalanan padat karena lalu lalang anggota tim penyelamat, ambulans, dan warga yang panik.

Warga trauma dan tidak berani masuk ke rumah. Mereka berkumpul dan duduk-duduk di tepi atau perempatan jalan. Mereka juga sempat panik dan lari setelah munculnya isu akan adanya tsunami. Sebagian besar lari ke Bukit Jimbung, perbukitan kapur yang terletak di Klaten Selatan. Terlebih mereka kembali merasakan gempa susulan, sekitar pukul 08.00, 10.00, dan 11.30.

Mal dan balaikota retak

Di Solo, saat gempa berlangsung, orang-orang berhamburan keluar dari rumah dengan berteriak-teriak histeris. Jumlah pasien korban gempa yang masuk ke RS Muwardi Solo mencapai 259 orang dan sejumlah bangunan, terutama gedung-gedung bertingkat, rusak dan dindingnya retak, seperti pusat perbelanjaan Solo Square dan Solo Grand Mall (SGM) di Jalan Slamet Riyadi Solo, termasuk bangunan di lantai 6 Balaikota Solo.

Di Solo Square, akibat gempa, balok dari beton yang menopang papan nama Solo Square yang terletak di bagian depan paling atas gedung tersebut jatuh menimpa kaca di kanopi sehingga menimbulkan kerusakan di bagian depan Solo Square. Di SGM tembok bagian luar gedung terlihat retak. Matahari Dept Store dan Hypermart tidak beroperasi.

Gedung Balaikota Solo juga tak luput dari guncangan gempa. Beberapa tembok, terutama di lantai 4, 5, dan 6 gedung tersebut, retak. Belum diketahui pasti seberapa besar kerusakan gedung tersebut. Sejumlah gedung bertingkat, seperti hotel, juga retak temboknya.

Di Kebumen

Gempa juga dirasakan hampir di seluruh daerah di Jawa Tengah bagian selatan, seperti Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, dan Kebumen. Bahkan, di Kebumen dilaporkan dua rumah roboh. Gempa mengejutkan banyak penduduk yang baru melakukan aktivitasnya.

Dua rumah yang roboh di Kebumen milik Ny Marliyah, warga Desa Karangsari, Kecamatan Kutowinangun, dan rumah milik Kasmo, warga Desa Bonorowo, Kecamatan Bonorowo. Tidak ada korban dalam musibah tersebut. Menurut Tursino, tokoh nelayan di Kecamatan Ayah, nelayan sempat panik karena saat melaut tiba-tiba muncul gelombang besar. ”Namun, gelombang besar hanya berlangsung beberapa saat. Nelayan tidak tahu bahwa saat muncul gelombang besar baru saja terjadi gempa bumi,” ujarnya.

Semarang siaga penuh

Seluruh rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta di Jawa Tengah, diinstruksikan untuk siaga penuh. Para dokter, perawat, dan tenaga medis yang semestinya libur ditekankan untuk melayani para korban.

”Seluruh biaya perawatan akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemprov Jateng. Obat-obatan dan tenaga medis akan dikirimkan dari beberapa rumah sakit di Semarang. Bantuan logistik juga segera dikirimkan,” kata Kepala Badan Informasi, Komunikasi, dan Kehumasan Provinsi Jateng Saman Kadarisman, memaparkan instruksi Gubernur Jateng Mardiyanto saat meninjau lokasi gempa di Klaten.

Mardiyanto juga meminta kepada bupati dan wali kota yang wilayahnya terkena gempa untuk tetap melayani masyarakat dengan menginventarisasi kerugian, baik jiwa maupun harta.

Untuk mengintensifkan penanganan, Posko Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Merapi di Magelang dialihkan sebagian ke Klaten. Posko pengungsi tersebar di berbagai kecamatan dan kelurahan, namun pusat penanganan di Kantor Bupati Klaten.

Sementara itu, warga di daerah-daerah yang diguncang gempa masih trauma. Semalam mereka tidur di luar rumah. Mereka banyak yang tidur di tanah lapang dengan tenda dan di halaman rumah. Mereka takut akan terjadi gempa lagi.

Tidak hanya orang tua yang tidur di luar, tetapi juga anak-anak kecil hanya beralaskan koran. ”Kami tidak berani tidur di dalam rumah, takut terjadi gempa lagi,” tutur Endang, ibu seorang anak di wilayah Gamping. (ang/eki/son/nts/and/ wad/nit/why/ika)

Sumber : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0605/28/utama/2685832.htm





Bencana Tsunami Aceh

11 10 2009

Bencana Tsunami Aceh

Di akhir tahun 2004, bencana Tsunami menyerang pesisir barat pulau Sumatera. Provinsi Nangroe Aceh Darusallam dan Kepulauan Nias, Sumatera Utara adalah wilayah terparah yang diporak poranda diterjang air bah. Kerugian material yang diakibatkan bencana ini ditaksir hampir ratusan trilyun rupiah. Banyak sarana-sarana transportasi, komunikasi, dan infrastruktur lainnya hancur ditelan gelombang air pasang ini. Kota yang dulunya dipadati oleh rumah-rumah penduduk dan bangunan batu, kini hampir rata dengan tanah. Ratusan ribu nyawa melayang. Dalam waktu sekejap mayat-mayat bergelimpangan disepanjang jalan dan dibiarkan membusuk tanpa ada yang merawatnya. Bencana ini kini tidak saja dirasakan oleh mereka yang terkena langsung, tetapi dirasakan oleh segenap masyarakat dunia. Melihat kenyataan ini , Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) merasa tergerak untuk membantu mereka yang terkena bencana tsunami, khususnya mereka yang tinggal di Kepulauan Nias. Daerah yang paling dekat dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, di mana pusat gempa itu berasal. Akibat gempa di Kepulauan Nias menurut informasi. dari Pdt. Zendrato, Ketua Tim Penanggulangan Gempa Gereja BNKP, musibah ini mengakibatkan: a. korban meninggal dunia 78 orang warga gereja di dua wilayah, yaitu kecamatan Sirombu dan kecamatan Mandehe. b. Korban menderita 400 KK diberbagai wilayah. c. Korban yang mengungsi 2.200 orang (dewasa dan anak-anak) ke 5 wilayah, yang masing-masing tersebar dibeberapa lokasi pengungsian (15 lokasi). Sesuai dengan misinya, LAI berencana memberikan dukungan Firman Allah dalam berbagai media yang bertujuan untuk memberikan penghiburan dan penguatan iman kepada para korban dalam menghadapi musibah tersebut. Rencana dukungan tersebut akan dinyatakan dalam bentuk:No Produk Jumlah Harga Total (Rp) 1 Alkitab 1,500 20,000 30,000,000 2 Kabar Baik Untuk Anak 200 85,000 17,000,000 3 Kabar Baik Bergambar 200 60,000 12,000,000 4 Kabar Baik Ceria 500 100,000 50,000,000 5 Komik 2,000 4,500 9,000,000 6 Portion Bumi Bergoncang 1,000 2,500 2,500,000 7 Audio Tape 35 285,000 9,975,000 Bateray 1,400 2,500 3,500,000 Kaset 35 400,000 14,000,000 8 Biaya Pengiriman 50,000,000 9 Dana Operasional 10,000,000 Total 207,975,000 10 LAI contribution 30,000,000 11 Kekurangan 177,975,000 Roe 1$ : Rp 9,200 US$ 19,345 Penyerahan dukungan akan dilaksanakan pertengahan Januari 2005 oleh staf LAI Perwakilan Medan yang bekerjasama dengan gereja setempat. Pelaksanaan ini merupakan tindakan darurat yang harus segera diambil, di mana pada tahap pertama dari rencana jangka panjang LAI untuk membantu masyarakat yang menjadi korban bencana tsunami. Tahap kedua adalah rencana jangka panjang, paling cepat satu tahun, yakni membantu memulihkan psikologis masyarakat pasca tsunami. Pada tahap inilah, LAI dapat berperan sesuai dengan visi-misi yang diembannya, yaitu menerbitkan dan menyebarkan Firman Tuhan kepada korban tsunami yang membutuhkannya. Jakarta, 4 Januari 2005 Lembaga Alkitab Indonesia








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.